Selamat datang di Official Website SMA Negeri 3 Blitar, yang merupakan wujud dari kesungguhan kami untuk membangun komunikasi interaktif demi meningkatkan kualitas pendidikan di SMA Negeri 3 Blitar. Kami menyadari Official website ini masih banyak kekurangan yang perlu dibenahi, untuk itu kami berharap masukan dan saran dari pengunjung semua demi sempurnanya website ini. Terimakasih, dan semoga bermanfaat bagi kita semua. Amien.
 
MENU
HOME
KESISWAAN
ALUMNI
INTERAKTIF
BUKU TAMU
 

Welcome to Official Website
SMAGA
 

:: Official Website

SMA NEGERI 3 BLITAR
http://www.sman3blitar.net
 

:: Alamat Sekolah
Jl. Bengawan Solo  Blitar
Telp/Fax : (0342)807225
Emai : Alamat e-mail ini telah dilindungi dari tindakan spam bots, Anda butuh Javascript dan diaktifkan untuk melihatnya

 

 
User Login
Galery Photo
Pengunjung Online

Saat ini ada 13 Jumlah tamu Yang online

Sistem Informasi Sekolah

Ayo Gabung di facebook kami

TUGAS S-2 MAKALAH PENGEMBANGAN SISTEM PEMBELAJARAN Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Sabtu, 06 Oktober 2007

PENGEMBANGAN SISTEM PEMBELAJARAN

Tugas Dari : Prof. Dr. I. Nyoman S. Degeng, M. Pd

 

Disusun sebagai Tugas Mata Kuliah Pengembangan Sistem Pembelajaran

Oleh :

NAMA               : LULUS PRIYOANANTO

NIM                   : 03002064

KELAS              : T. BLITAR

 

PROGRAM PASCA SARJANA

 TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

UNIVERSITAS PGRI ADHI BUANA SURABAYA

2004

 


JIKA INGIN BELAJAR, MAKA BERHENTILAH BELAJAR

DAN

JIKA INGIN BERPIKIR, MAKA BERHENTILAH UNTUK BERPIKIR

 

Ungkapan pada judul di atas diinspirasi pernyataan Sang Filsof Plato, yang mengatakan bahwa “jika ingin berpikir, berhentilah berpikir”. Pernyataan Plato tersebut terkandung maksud, apabila kita ingin berpikir maka kita harus berhenti berpikir. Dengan berhenti berpikir, kita akan dapat mengosongkan pikiran untuk melakukan refleksi pola pikir. Tanpa berhenti berpikir, apa yang sedang dipikirkan jelas akan dipengaruhi oleh latar belakang pikir yang telah terbentuk sebelumnya sehingga mengakibatkan hasil pemikiran tidak jernih dan objektif.

Demikian halnya dengan mengajar atau teaching yang selama bertahun-tahun menjadi aktifitas rutin guru. Aktifitas mengajar yang dilakukan seorang guru dibentuk oleh pengalamannya di masa lalu, dari kecil ketika ia melihat gurunya mengajar sampai ia sendiri menjadi guru dan mengajar anak didik akan mengakumulasi dan kemudian membentuk pola pikir mengajar yang diyakini sebagai kebenaran.

Bagaimana pola pikir mengajar yang dibentuk dari pengalaman guru ?

Pertama           Guru menganggap sebagai sumber ilmu pengetahuan. Karena itu,

                        guru harus lbih pandai dari pada muridnya dan guru tidak boleh salah.

Kedua              Karena guru sebagai sumber ilmu pengetahuan dan kaya akan

pengalaman hidup maka guru hendaknya harus digugu lan ditiru oleh

anak didik apan yang dikatakan dan dilakukan oleh gurunya.

Ketiga              Implikasi daru dua cara pandang guru tersebut, maka dalam kegiatan

mengajar di kelas anak didik tidak boleh membantah sabdo guru.

yang diperbolehkan hanya minta penjelasan atau petunjuk dari guru.

Keempat          Guru sebagai abdi negara (pegawai) yang mengabdikan diri untuk

                        mengajar anak didik harus tunduk dan patuh pada penguasa negara

yang telah menetapkan materi yang diajarkan kepada anak didik atau

kurikulum yang telah digariskan. Karena itu yang dipikirkan, bagaimana menghabiskan materi ajar atau target kurikulum

disampaikan kepada anak didik tanpa memperhatikan kemampuan daya serap dari masing-masing peserta didik.

Kelima             Untuk melihat seberapa banyak anak didik menyerap materi ajar,

                        maka dibuatlah soal yang harus dikerjakan anak setiap akhir periode

                        ajar (semester atau tahun)

 

Pola pikir mengajar guru seperti tersebut di atas dibentuk oleh sistem ideologi, sosial, politik, dan budaya masyarakat yang telah berlangsung selama ini. Pola mengajar guru seperti itu terbentuk memang untuk memenuhi kebutuhan sosial dan mengatasi problem sosial yang berkembang pada masyarakat waktu itu, yaitu masyarakat yang tidak terlalu banyak mengalami perubahan. Masyarakat yang menginginkan terjadinya keteraturan, ketertiban, dan keseragaman.

 

Apakah pola pikir mengajar yang diterapkan selama ini masih cocok dengan kebutuhan dan problem sosial saat ini dan masa mendatang ?

 

Kita tahu pada era global seperti sekarang ini kehidupan masyarakat tengah mengalami banyak sekali perubahan yang begitu cepat dalam berbagai segi kehidupan, ideologi, sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Perubahan yang cepat ini disebabkan oleh adanya pertukaran arus informasi yang begitu cepat dari berbagai belahan dunia sebagai akibat dari kemajuan teknologi dan informasi. Perubahan yang cepat ini selain akan memberikan berbagai peluang bagi aktifitas masyarakat, juga akan menimbulkanberbagai problem di masyarakat.

Karena itu, yang dibutuhkan masyarakat dalam era yang senantiasa berubah atau menurut istilah Prof. Dr. I. Nyoman S. Degeng, M. Pd sebagai           era kesemrawutan adalah kemampuan dan kecepatan menangkap atau memanfaatkan peluang sekaligus dalam mengatasi berbagai persoalan akibat perubahan cepat di berbagai variabel kehidupan.

Oleh karena kebutuhan belajar di era kesemrawutan ini sudah berbeda dengan era keteraturan, maka pola pikir mengajar guru harus diubah menjadi pola pikir mengajar yang dapat memenuhi kebutuhan belajar di era kesemrawutan sekarang ini. Untuk itu, guru harus berhenti mengajar dengan pola pikir lama. Tanpa menghentikan aktivitas mengajar dengan pola pikir lama dan memulai mengajar dengan pola pikir yang baru, maka kebutuhan belajar peserta didik pasti tidak akan pernah terpenuhi.

Pola pikir atau paradigma baru yang diharapkan dapat menjawab kebutuhan belajar di era kesemrawutan ini menurut Prof. Dr. I. Nyoman S. Degeng, M. Pd dilandasi oleh teori dan konsep konstruktivistik. Pola pikir mengajar guru dilandasi teori dan konsep konstruktivistik diidentifikasi sebagai berikut :

Ø  Guru memandang bahwa pengetahuan yang disampaikan kepada anak didik bersifat non-objektif, temporer, selalu berubah dan tidak menentu. Karena itu, guru tidak menganggap dirinya sebagai sumber kebenaran.

Ø  Implikasi dari anggapan pertama, maka ia tidak akan memaksakan anak didiknya untuk menggugu lan meniru dari perkataan dan perbuatannya. Tetapi meminta anak didiknya untuk menggali, membuktikan, dan menilai dulu apakah yang perbuat-katakanakan bermakna bagi kehidupannya di masa mendatang. Sehingga kalaupun anak didik akhirnya mengikuti perbuatan dan perkataan guru, itu karena pengalaman dan kesadarannya untuk memenuhi kebutuhannya.

Ø  Guru memandang anak didik memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Karena itu, pemahaman murid terhadap pengetahuan tergantung pada pengalamannya dan perspektif yang digunakan dalam menginterpretasikan pengetahuan. Dalam pandangan guru tidak ada istilah anak didik bodoh, tetapi yang ada perbedaan kecepatan atau kemampun dalam menggali, menyerap, memahami, dan mengaplikasikan pengetahuan. Dengan demikian, apapun yang dihasilkan anak didik harus dihargai oleh guru.

Ø  Dalam aktivitas belajar harus ada kebebasan. Anak didik adalah subjek yang harus mampu menggunakan kebebasan untuk melakukan pengaturan diri dalam belajar. Karena itu murid yang akan belajar menentukan sekaligus mengontrol dirinya sendiri mau berhasil atau gagal dalam belajar.

Ø  Tujuan pembelajaran diarahkan pada belajar bagimana belajar. Jadi yang terpenting dilakukan guru adalah mendorong, memfasilitasi, mengkoordinasi dan membimbing anak didik untuk menggali pengetahuan dan memaknai serta mengimplikasikan pengetahuan secara terus menerus.

Ø  Strategi pembelajran yang dilakukan guru dalam menyajikan materi menekankan pengetahuan secara bermakna mengikuti urutan dari keseluruhan ke bagian, kegiatan diarahkan untuk meladeni pertanyaan atau pandangan anak didik dengan menekankan pada keterampilan berpikir kritis.

Ø  Dalam melakukan evaluasi pembeljaran, menekankan pada penyusunan makna secara aktif yang melibatkan keterampilan terintegrasi, dengan menggunakan masalah dalam konteks nyata. Tujuan evaluasi untuk menggali munculnya berpikir divergen, pemecahan ganda, dan bukan hanya satu jawaban yang benar. Penekanan evaluasi pada keterampilan proses dalam kelompok.

 

Kesimpulan dari uraian di atas bahwa untuk dapat menjawab problem-problem pembelajaran akibat munculnya era kesemrawutan maka guru harus menghentikan pola pikir mengajar lama yang menggunakan pendekatan behavioristik. Selanjutnya guru harus menggunakanpendekatan konstruktivistik. Dengan pola pikir baru ini kebutuhan belajar subjek didik pada era kesemrawutan diharapkan dapat terpenuhi.

 

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >






                                           VISITE >>                                             LOGIN >>                                                JOIN >>
© 2010 Official Website SMA Negeri 3 Blitar