|
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pelaksanaan program pembelajaran di instansi pendidikan menjadi tugas dan tanggung jawab seluruh komponen yang ada di instansi tersebut. Di sekolah, tugas dan tanggung jawab ini yang menjadi kunci pelaksanaannya seolah hanya pengajar atau yang biasa disebut dengan guru. Guru selalu dituntut untuk mampu melaksanakan program pembelajaran yang telah menjadi target kurikulum yang telah ditetapkan bersama bersama. Kenyataannya banyak sekali guru di berbagai sekolah yang tidak dapat memenuhi target kurikulum seperti yang telah direncanakan sebelumnya. Bahkan perangkat pendidikan yang seharusnya dibuat oleh setiap guru mata pelajaran dan digunakan sebagai acuan pelaksanaan program pembelajaran di sekolah terkadang dilalaikan. Hal ini sering terjadi di sekolah-sekolah swasta yang jaraknya cukup jauh dari pusat kota. Di sekolah tersebut, permalasahan yang berkaitan dengan program pembelajaran begitu kompleks dan saling berkaitan. Sementara guru dituntut untuk menyelesaikan target yang telah ditetapkan, peserta didik begitu sulit untuk diajak bekerja sama. Sehingga waktu yang seharusnya digunakan untuk melaksanakan program pembelajaran terasa terbuang untuk mengurusi peserta didik. Terlebih lagi hal ini ditambah dengan acuh tak acuhnya guru untuk menangani permasalahan yang sebenarnya sedang dihadapi oleh sekolahnya. Kebanyakan guru hanya berpedoman yang penting mengajar tanpa melihat tingkah laku peserta didiknya selama pelaksanaan program pembelajaran di sekolah berlangsung. Sehingga tugas guru sebagai pendidik hampir tidak pernah dilaksanakan. Mereka terlanjur beraggapan bahwa masalah perilaku peserta didik di sekolah telah menjadi beban dan tanggung jawab Kesiswaan atau Bimbingan dan Konseling di sekolah itu. 1.2 Rumusan Masalah Permasalahan yang dapat diangkat dari penulisan makalah ini dituangkan dalam kalimat sederhana sebagai berikut : Bagaimanakah cara menyelesaikan permasalahan pembelajaran yang berkaitan dengan target kurikulum ? 1.3 Tujuan dan Manfaat Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana cara menyelesaikan permasalahan pembelajaran yang berkaitan dengan target kurikulum. Adapun manfaat yang dapat diambil dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Sebagai pedoman bagi guru untuk melaksanakan program pembelajaran di sekolah, 2. Sebagai wacana bagi guru untuk lebih meningkatkan potensi dirinya dalam mensukseskan pelaksanaan program pembelajaran di sekolah, 3. Guru dapat mengambil sikap jika menghadapi permasalahan yang berkaitan dengan pembelajaran di sekolahnya. 4. Sebagai bahan pertimbangan untuk mengoreksi kurikulum yang sedang dilaksanakan. II. PEMBAHASAN Pelaksanaan program pembelajaran ini tidak selamanya dapat berjalan dengan lancar dan selalu sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Dalam pelaksanaannya, akan selalu dijumpai permasalahan-permasalahan yang menghambat pelaksanaan program pembelajaran tersebut. Permasalahan pembelajaran memang sangat kompleks dan dapat terjadi di setiap sekolah, yang pada akhirnya berujung pada pelaksanaan program pembelajaran yang telah ditargetkan oleh sekolah. Tetapi bukan berarti setiap permasalahan selalu tanpa ada jalan keluar. Hal inilah yang menjadi PR guru sebagai pengajar untuk mengatasinya. Dalam konteks pengajaran sekarang, guru hanyalah seorang mediator yang tugasnya membantu untuk menumbuh kembangkan potensi peserta didik. Yang berarti juga bahwa seorang guru harus memiliki kemampuan untuk itu. Kemampuan ini dirasakan sangat kurang pada diri seorang guru. Sehingga guru hanya bisa mengajar, mengajar, dan mengajar. Bahkan untuk menutupi kekurangannya, seorang guru menyampaikan informasi hanya melalui buku yang dipegangnya, sementara siswa dituntut untuk mengerti apa yang telah disampaikannya. Dalam hal ini, pengajaran yang diberikan oleh guru akan terasa monoton dan membuat peserta didik cepat merasa bosan di dalam kelas, sehingga tidak jarang bagi siswa untuk mencari angin segar di luar kelas atau bahkan di luar sekolah di saat jam pelajaran berlangsung. Jika hal benar terjadi, yang selalu dijadikan kambing hitam adalah peserta didik dengan dalih nakal, tidak menurut dan atau sebagainya. Peran guru dalam pengajaran seharusnya didukung dengan kemampuan lain yang dapat mendekatkan dirinya kepada peserta didik. Kedekatan antara guru dan peserta didik ini akan mampu menjadi jembatan bagi keduanya untuk saling mengenal, mengerti, dan memahami keinginan masing-masing. Sehingga jika peserta didik menginginkan sesuatu untuk mengembangkan potensi dirinya, guru dapat melayani dengan baik dan bukan malah menekan siswa untuk mencapai apa yang menjadi target keinginan guru. Dengan sikap saling mengenal satu sama lain, permasalahan pembelajaran akan dapat ditekan dan apa yang telah menjadi program pembelajaran sebagai target kurikulum dapat tercapai. Pangkal dari pelaksanaan program pembelajaran adalah adanya kurikulum dan pelaksanaannya akan berujung pada target kurikulum. Saat ini yang menghantui guru dalam melaksanakan program pembelajaran di sekolah adalah terselesainya target kurikulum tepat pada waktunya. Sementara kemampuan guru ada batasnya, kondisi lingkungan sekolah terkadang tidak sesuai dengan apa yang telah digariskan oleh kurikulum. Jika hal ini terjadi, maka sekolah akan menghadapi dua permasalahan dengan dua penyelesaian yang harus dipilih. Masalah pertama adalah menyelesaikan target kurikulum. Jika kondisi lingkungan sekolah tidak sesuai seperti tidak tersedianya sarana laboratorium, maka peserta didik akan mendapatkan semua informasi dan materi yang sifatnya kognitif saja dengan tidak mendapatkan materi praktek yang sifatnya psikomotor, yang sebenarnya sangat diperlukan oleh peserta didik sebagai input jika sudah keluar dari sekolah dimana ia menimba ilmu, sedangkan materi yang ia dapatkan hanya terasa luarnya saja. Masalah kedua adalah tidak terselesainya target kurikulum. Target tidak tercapai karena guru kehabisan waktu untuk melaksanakan remidi untuk peserta didik di jam-jam efektif sekolah. Hasilnya, peserta didik akan mengerti dan pahan betul materi yang disajikan pada saat itu, tetapi peserta didik tidak mendapatkan materi lebih lanjut karena target kurikulum tidak selesai. Jika masalah yang dihadapi demikian, sekolah dapat memasukkan muatan lokal sebagai jalan tengahnya. Karena kondisi lingkungan sekolah, target kurikulum boleh tidak tercapai asalkan peserta didik nantinya memiliki output yang memadai dan memiliki prestasi yang dapat membanggakan siswa dan sekolah. III. PENUTUP 3.1 Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari penulisan makalah ini adalah bahwa sekolah seharusnya tidak merasa terbebani dengan adanya kurikulum yang menjadi target setiap sekolah. Dalam melaksanakan program pembelajaran, yang terpenting adalah berkembangnya potensi peserta didik melalui kegiatan pembelajaran yang diberikan oleh sekolah dan output peserta didik yang semakin meningkat. 3.2 Saran Dalam melaksanakan program pembelajaran, harus didukung dengan kemampuan guru untuk membatu kelancaran pelaksanaan program tersebut. Guru juga diharapkan memiliki kemampunan lain yang dan melakukan pendekatan kepada siswa agar saling mengetahui keinginan masing-masing.
|