Selamat datang di Official Website SMA Negeri 3 Blitar, yang merupakan wujud dari kesungguhan kami untuk membangun komunikasi interaktif demi meningkatkan kualitas pendidikan di SMA Negeri 3 Blitar. Kami menyadari Official website ini masih banyak kekurangan yang perlu dibenahi, untuk itu kami berharap masukan dan saran dari pengunjung semua demi sempurnanya website ini. Terimakasih, dan semoga bermanfaat bagi kita semua. Amien.
 
MENU
HOME
KESISWAAN
ALUMNI
INTERAKTIF
BUKU TAMU
 

Welcome to Official Website
SMAGA
 

:: Official Website

SMA NEGERI 3 BLITAR
http://www.sman3blitar.net
 

:: Alamat Sekolah
Jl. Bengawan Solo  Blitar
Telp/Fax : (0342)807225
Emai : Alamat e-mail ini telah dilindungi dari tindakan spam bots, Anda butuh Javascript dan diaktifkan untuk melihatnya

 

 
User Login
Galery Photo
Pengunjung Online

Saat ini ada 15 Jumlah tamu Yang online

Sistem Informasi Sekolah

Ayo Gabung di facebook kami

PTK Matematika SMA 3 BAB 2 Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Kamis, 30 Agustus 2007
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Hakekat Belajar dan Pembelajaran
Belajar pada prinsipnya adalah proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara siswa dengan sumber-sumber atau obyek belajar baik secara sengaja dirancang atau tanpa sengaja dirancang (Suliana,2005). Kegiatan belajar tersebut dapat dihayati (dialami) oleh orang yang sedang belajar. Selain itu kegiatan belajar juga dapat di amati oleh orang lain. Belajar yang di hayati oleh seorang pebelajar (siswa) ada hubungannya dengan usaha pembelajaran, yang dilakukan oleh pembelajar (guru). Pada satu sisi, belajar yang di alami oleh pebelajar terkait dengan pertumbuhan jasmani yang siap berkembang. Pada sisi lain, kegiatan belajar yang juga berupa perkembangan mental tersebut juga didorong oleh tindakan pendidikan atau pembelajaran. Dengan kata lain, belajar ada kaitannya dengan usaha atau rekayasa pembelajar. Dari segi siswa, belajar yang dialaminya sesuai dengan pertumbuhan jasmani dan perkembangan mental, akan menghasilkan hasil belajar sebagai dampak pengiring, selanjutnya, dampak pengiring tersebut akan menghasilkan program belajar sendiri sebagai perwujudan emansipasi siswa menuju kemandirian. Dari segi guru, kegiatan belajar siswa merupakan akibat dari tindakan pendidikan atau pembelajaran. Proses belajar siswa tersebut menghasilkan perilaku yang dikehendaki, suatu hasil belajar sebagai dampak pengajaran. (Dimyati & Mudjiono, 2002)

B.    Prinsip-prinsip Belajar
Para ahli meneliti gejala-gejala dari berbagai sudut pandang ilmu. Mereka telah menemukan teori-teori dan prinsip-prinsip belajar. Diantara prinsip-prinsip belajar yang penting berkenaan dengan :
1.    Perhatian dan motivasi belajar siswa
2.    Keaktifan belajar
3.    Keterlibatan dalam belajar
4.    Pengulangan belajar
5.    Tantangan semangat belajar
6.    Pemberian balikan dan penguatan belajar
7.    Adanya perbedaan individual dalam perilaku belajar
Perhatian dapat memperkuat kegiatan belajar, menggiatkan perilaku untuk mencapai sasaran belajar. Perhatian berhubungan dengan motivasi sebagai tenaga penggerak belajar. Motivasi dapat bersifat internal atau eksternal, maupun intrinsik atau ekstrinsik.
Yang dimaksud dengan motivasi yang bersifat internal adalah motivasi yang datang dari diri sendiri. Motivasi yang bersifat eksternal adalah motivasi yang datang dari orang lain. Yang dimaksud dengan motivasi yang bersifat intrinsik adalah tenaga pendorong yang sesuai dengan perbuatan yang dilakukan. Sebagai contoh, seorang siswa yang dengan sungguh-sungguh mempelajari matapelajaran disekolah karena ingin memiliki pengetahuan yang dipelajarinya. Sedang motivasi ekstrinsik adalah tenaga pendorong yang ada di luar perbuatan yang dilakukannya tetapi menjadi penyertanya. Sebagai contoh, seorang siswa belajar sungguh-sungguh bukan disebabkan karena ingin memiliki pengetahuan yang dipelajarinya tetapi didorong oleh keinginan untuk naik kelas atau mendapatkan ijazah. Naik kelas dan mendapatkan ijazah adalah penyerta dari keberhasilan belajar.
Dewasa ini para ahli memandang siswa adalah seorang individu yang aktif. Oleh karena itu, peran guru bukan sebagai satu-satunya pembelajar, tetapi sebagai pembimbing, fasilitator dan pengarah. Belajar memang bersifat individual, oleh karena itu belajar berarti suatu keterlibatan langsung atau pemerolehan pengalaman individual yang unik. Belajar tidak terjadi sekaligus, tetapi akan berlangsung penuh pengulangan berkali-kali, bersinambungan, tanpa henti. Belajar yang berarti bila bahan belajar tersebut menantang siswa. Belajar juga akan menjadi terarah bila ada balikan dan penguatan dari pembelajar. Betapapun pembelajaran yang telah direkayasa secara pedagogis oleh guru, hasil belajar akan terpengaruh oleh karakteristik psikis, kepribadian dan sifat-sifat individual pebelajar.
 
C.    Motivasi Belajar
Siswa belajar karena didorong oleh kekuatan mentalnya. Kekuatan mental itu berupa keinginan, perhatian atau cita-cita. Kekuatan mental tersebut dapat tergolong rendah atau tinggi. Ada sebagian ahli psikologi pendidikan yang menyebut kekuatan mental yang mendorong terjadinya belajar tersebut sebagai motivasi belajar. Motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia, termasuk perilaku belajar. Dalam motivasi terkandung adanya keinginan yang mengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan dan mengarahkan sikap dan perilaku pada individu belajar (Koeswara, 1989; Siagia, 1989; Sehein, 1991; Biggs & Telfer, 1987 dalam Dimyati & Mudjiono, 2002 ). Sebagai kekuatan mental, motivasi dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu:
1.    Motivasi Primer
Motivasi Primer adalah motivasi yang didasarkan pada motif-motif dasar. Motif-motif dasar tersebut umumnya berasal dari segi biologis atau jasmani manusia. (Dimyati & Mudjiono, 2002)
2.    Motivasi Sekunder
Motivasi Sekunder adalah motivasi yang dipelajari. Hal ini berbeda dengan motivasi primer. Sebagai ilustrasi seorang yang lapar akan tertarik pada makan dibanding belajar.  Untuk memperoleh makanan tersebut orang harus bekerja terlebih dahulu. Agar dapat bekerja dengan baik, orang harus belajar bekerja. “Bekerja dengan baik” merupakan motivasi sekunder. Bila orang bekerja dengan baik, maka ia akan memperoleh gaji berupa uang. Uang tersebut merupakan penguat motivasi sekunder. Uang merupakan penguat umum, agar orang bekerja dengan baik. Bila orang memiliki uang setelah ia bekerja dengan baik, maka ia dapat membeli makanan untuk menghilangkan rasa lapar.(Jalaludin Rahmad, 1991; Sumadi Suryabrata, 1991 dalam Dimyati & Mudjiono, 2002)
Berdasarkan sifatnya, motivasi dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu :
1.    Motivasi Intrinsik
Motivasi Intrinsik adalah motivasi yang dikarenakan orang tersebut senang melakukannya.(Dimyati & Mudjiono, 2002)
2.    Motivasi Ekstrinsik
Motivasi Ekstrinsik adalah dorongan terhadap perilaku seseorang yang ada diluar perbuatan yang dilakukannya. Orang berbuat sesuatu, karena dorongan dari luar seperti adanya hadiah dan menghindari hukuman.(Dimyati & Mudjiono, 2002)

D.    Pendekatan Belajar
Belajar dapat dilakukan di sembarang tempat, kondisi, dan waktu. Cepatnya informasi lewat radio, televisi, film, internet, surat kabar, majalah, dapat mempermudah belajar. Meskipun informasi dapat dengan mudah diperoleh, tidak dengan sendirinya seseorang terdorong untuk memperoleh pengetahuan, pengalaman, pengetahuan dan ketrampilan daripadanya. Guru profesional memperlukan pengetahuan dan keterampilan pendekatan pembelajaran agar mampu mengelola berbagai pesan sehingga siswa terbiasa belajar sepanjang hayat.
Pendekatan pembelajaran dapat berarti anutan pembelajaran yang berusaha meningkatkan kemampuan-kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik siswa dalam pengolahan pesan sehingga tercapai sasaran belajar. Dalam belajar tentang pendekatan belajar tersebut, orang dapat melihat pengorganisasian siswa, posisi guru-siswa dalam pengolahan pesan, dan pemerolehan kemampuan dalam pembelajaran. Pendekatan pembelajaran dengan pengorganisasian siswa dapat dilakukan dengan pembelajaran secara individual, pembelajaran secara kelompok, dan pembelajaran secara klasikal. (Dimyati & Mudjiono, 2002)

E.    Masalah-masalah Belajar
Dari sisi siswa yang bertindak belajar akan menimbulkan masalah-masalah internal belajar. Dari sisi guru, yang memusatkan perhatian pada pebelajar yang belajar maka akan muncul faktor-faktor eksternal yang memungkinkan terjadinya belajar.
Faktor internal yang dialamai oleh siswa meliputi hal-hal seperti; sikap terhadap belajar, motivasi belajar, konsentrasi belajar, kemampuan mengolah bahan belajar, kemampuan menyimpan perolehan hasil belajar, kemampuan menggali hasil belajar yang tersimpan, kemampuan berprestasi atau unjuk hasil belajar, rasa percaya diri siswa, intelegensi dan keberhasilan belajar, kebiasaan belajar dan cita-cita siswa. Faktor-faktor internal ini akan menjadi masalah sejauh siswa tidak dapat menghasilkan tindak belajar yang menghasilkan hasil belajar yang baik. (Dimyati & Mudjiono, 2002)
Faktor eksternal meliputi hal-hal sebagai berikut; guru sebagai pembimbing belajar, prasarana dan sarana pembelajaran, kebijakan penilaian, lingkungan siswa di sekolah, dan kurikulum sekolah. Dari sisi guru sebagai pembelajar maka peranan guru dalam mengatasi masalah-masalah eksternal belajar merupakan prasyarat terlaksanannya siswa dapat belajar.(Dimyati & Mudjiono, 2002)
Sumadi Suryabrata (1984) mengklasifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar sebagai berikut :
1.    Faktor-faktor yang berasal dari luar diri pelajar, dan ini masih lagi digolongkan menjadi dua golongan, yaitu :
a.    Faktor-faktor non-sosial
Kelompok faktor-faktor ini boleh dikatakan juga tidak terbilang jumlahnya, seperti misalnya : keadaan suhu, suhu udara, cuaca, waktu (pagi, siang atau malam), tempat (letaknya, pergedungannya), alat-alat yang dipakai untuk belajar (alat tulis, buku, alat peraga, dan sebagainya yang dapat kita sebut sebagai alat pelajaran).
b.    Faktor-faktor sosial
Yang dimaksud dengan faktor sosial disini adalah faktor manusia (semua manusia), baik manusia itu hadir maupun kehadirannya itu dapat disimpulkan, jadi tidak langsung hadir. Kehadiran orang atau orang-orang lain pada waktu seseorang sedang belajar, banyak kali mengganggu belajar itu; misalnya kalau satu kelas murid sedang melaksanakan ujian, lalu banyak anak-anak lain bercakap-cakap di samping kelas, atau seseorang sedang belajar di kamar, satu atau dua orang hilir mudik keluar masuk kamar belajar itu dan sebagainya.
Selain kehadiran yang langsung seperti yang dikemukakan di atas, mungkin juga orang lain itu hadir tidak secara langsung atau dapat disimpulkan kehadirannya; misalnya saja potret dapat merupakan representasi dari seseorang, suara nyanyian yang dihidangkan lewat radio maupun tape recorder juga dapat merupakan representasi bagi kehadiran seseorang.
2.    Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri pelajar, dan ini pun dapat lagi digolongkan menjadi dua golongan yaitu :
a.    Faktor-faktor fisiologi
Faktor-faktor fisiologi ini masih dapat lagi dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
1)    Keadaan tonus jasmani pada umumnya
Keadaan tonus jasmani pada umumnya ini dapat dikatakan melatar belakangi aktivitas belajar, keadaan jasmani yang segar akan lain pengaruhnya dengan keadaan jasmani yang kurang segar, keadaan jasmani yang lelah lain pengaruhnya dari pada yang tidak lelah. Dalam hubungannya dengan hal ini ada dua hal yang perlu dikemukakan yaitu :
(a)    Nutrisi harus cukup karena kekurangan kadar makanan ini akan mengakibatkan kurangnya tonus jasmani, yang pengaruhnya dapat berupa kelesuan, lekas mengantuk, lekas lelah dan lain sebagainya.
(b)    Beberapa penyakit yang kronis sangat mengganggu belajar itu.
2)    Keadaan fungsi-fungsi fisiologi tertentu terutama fungsi-fungsi alat indra.
b.    Faktor-faktor psikologi
Arden N. Frandsen (dalam S. Suryabrata, 1984) mengatakan bahwa hal yang mendorong seseorang untuk belajar adalah sebagai berikut:
1)    Adanya sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih luas
2)    Adanya keinginan untuk mendapatkan simpati dari orang tua, guru, dan teman-teman.
3)    Adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan yang lalu dengan usaha yang baru, baik dengan kooperasi maupun kompetensi
4)    Adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman bila menguasai pelajaran
5)    Adanya ganjaran atau hukuman sebagai akhir dari pada belajar.





F.    Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-Based Learning)
Pembelajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks  bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis  dan keterampilan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran.
Pembelajaran berbasis masalah digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi dalam situasi berorientasi masalah, termasuk didalamnya belajar bagaimana belajar. Menurut Ibrahim dan Nur (2002:2 dalam Nurhadi dkk, 2004), “Pembelajaran berbasis masalah dikenal dengan nama lain seperti Project-based Teaching (pembelajaran proyek), Experience-Based Education (pendidikan berdasarkan pengalaman), Authentic learning (Pembelajaran autentik), dan Anchored instructian (pembelajaran berakar pada kehidupan nyata)”. Peran guru dalam pembelajaran berbasis masalah adalah menyajikan masalah, mengajukan masalah tidak dapat dilaksanakan tanpa guru mengembangkan lingkungan kelas yang memungkinkan terjadinya pertukaran ide secara terbuka. Secara garis besar pembelajaran berbasis masalah terdiri dari penyajian kepada siswa situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri.
1.    Ciri-ciri pengajaran berbasis masalah
Berbagai pengembangan pembelajaran berbasis masalah  menunjukkan ciri-ciri sebagai berikut :

a.    Pengajuan pertanyaan atau masalah
b.    Berfokus pada ketrampilan antar disiplin
c.    Penyelidikan autentik
d.    Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya
2.    Tujuan pembelajaran dan hasil pembelajaran
Pengajaran berbasis masalah dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa. Pembelajaran berbasis masalah dikembangkan terutama untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual; belajar tentang berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi; dan menjadi pembelajar yang otonom dan mandiri. (Nurhadi, Burhan & Agus, 2004)
3.    Tahapan pembelajaran berbasis masalah
Pengajaran berbasis masalah biasanya terdiri dari lima tahapan utama yang dimulai guru memperkenalkan siswa dengan suatu situasi masalah yang diakhiri dengan penyajian dan analisa hasil kerja siswa.
a.    Tahap pertama adalah orientasi siswa terhadap masalah. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa agar terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
b.    Tahap kedua adalah mengorganisasi siswa untuk belajar. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.
c.    Tahap ketiga adalah membimbing penyelidikan individual dan kelompok. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan penyelesaian masalahnya.
d.    Tahap keempat adalah mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Guru membantu siswa merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai dengan laporan, video dan model serta membantu mereka berbagi tugas dengan temannya.
e.    Tahap kelima adalah menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Guru membantu siswa melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-peoses yang mereka gunakan.

G.    Logika Matematika
1.    Pernyataan
Pernyataan adalah suatu kalimat yang deklaratif yang bernilai benar saja atau salah saja, tetapi tidak sekaligus benar dan salah. Yang dimaksud benar atau salah adalah sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Setiap pernyataan adalah kalimat tetapi tidak semua kalimat adalah pernyataan.

Contoh : a. 4 kurang dari 5 (benar)
b. 6 adalah bilangan prima (salah)
Suatu pernyataan biasanya dilambangkan dengan memakai huruf kecil, seperti a,b,c,.......o,p,q, dan seterusnya.
Contoh : Pernyataan “4 kurang dari 5”
Ditulis p : 4 kurang dari 5
Benar atau salah dari suatu pernyataan dapat ditentukan melalui dasar empiris dan tak empiris.
Dasar empiris yaitu menentukan benar atau salah dari suatu pernyataan berdasarkan fakta yang ada atau dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh : “ Ibu kota Indonesia adalah Jakarta”, merupakan pernyataan benar.
Dasar tak empiris yaitu menentukan benar atau salah dari suatu pernyataan dengan memakai bukti atau perhitungan-perhitungan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh : “Akar persamaan 3X - 2 = 4 adalah 2”, merupakan pernyataan benar.
2.    Kalimat Terbuka
Kalimat terbuka adalah kalimat yang mengandung variabel, dan jika variabel tersebut di ganti konstanta dengan semesta yang sesuai maka kalimat itu akan menjadi kalimat yang bernilai benar saja atau salah saja.
Variabel adalah simbol yang menunjukkan suatu anggota yang belum spesifik dalam semesta pembicaraan. Dan konstanta adalah simbol yang menunjukkan anggota tertentu (yang sudah spesifik) dalam semesta pembicaraan.
Contoh : a. 2 + x = 5, untuk nilai x variabel bilangan cacah.
b. 4x+3>9, untuk nilai x variabel bilangan asli.
3.    Ingkaran dan Negasi (~)
Ingkaran atau negasi adalah kebalikan dari suatu pernyataan. Jika pernyataan yang semula bernilai benar jika dinegasi maka akan menjadi bernilai salah, atau sebaliknya pernyataan yang semula bernilai salah bila dinegasi maka akan bernilai benar.Contoh : a bila dinegasi ~a (berarti bukan a). Adapun tabel kebenarannya adalah sebagai berikut:
p    ~p
B    S
S    B

4.    Konjungsi ()
Konjungsi adalah dua pernyataan bernilai benar jika kedua komponennya bernilai benar. Konjungsi adalah kata lain dari perangkai “dan”. Tabel kebenarannya adalah sebagai berikut:
P    Q    pq
B    B    B
B    S    S
S    B    S
S    S    S



5.    Disjungsi ()
Disjungsi adalah dua pernyataan bernilai benar jika salah satu komponennya bernilai benar atau bernilai salah bila kedua komponennya bernilai salah. Disjungsi adalah kata lain dari perangkai atau. Tabel kebenarannya adalah sebagai berikut:

p    q    pvq
B    B    B
B    S    B
S    B    B
S    S    S

6.    Implikasi ()
Implikasi adalah dua pernyataan majemuk yang disusun dari dua buah pernyataan p dan q dengan bentuk jika p maka q (pq) pernyataan tersebut bernilai salah jika p bernilai benar dan q bernilai salah dan yang lainnya bernilai benar. Tabel kebenarannya adalah sebagai berikut:
p    q    pq
B    B    B
B    S    S
S    B    B
S    S    B

7.    Biimplikasi ()
Biimplikasi adalah pernyataan yang dibentuk dari dua pernyataan p dan q dengan menggunakan kata hubung “jika dan hanya jika”. Biimplikasi dua pernyataan akan bernilai benar jika komponen-komponennya memiliki kebenaran yang sama. Tabel kebenarannya adalah sebagai berikut:
p    q    pq
B    B    B
B    S    S
S    B    S
S    S    B

8.    Pernyataan Majemuk
Pernyataan majemuk adalah pernyataan yang dibentuk dari beberapa pernyataan tunggal (komponen) yang dirangkai dengan menggunakan kata hubung logika.
Contoh : tunjukkan dengan nilai kebenaran pernyataan majemuk ~(p~q) !
Jawab : tabel kebenaran ~(p~q)
p    q    ~q    (p~q)    ~(p~q)
B    B    S    B    S
B    S    B    B    S
S    B    S    S    B
S    S    B    B    S

9.    Tautologi
Tautologi adalah suatu pernyataan majemuk yang selalu selalu benar untuk semua kemungkinan nilai kebenaran dari pernyataan-pernyataan komponennya.
10.    Ekuivalen
Dua buah pernyataan dikatakah ekuivalen jika kedua pernyataan majemuk itu mempunyai nilai kebenaran yang sama.
11.    Kuantor Universal
Kuantor universal adalah pernyataan yang menggunakan kata semua atau setiap pernyataan yang berkuantor universal “semua A adalah B”
12.    Kuantor Eksistensi
Kuantor Ekstensial adalah pernyataan yang menggunakan kata “ada atau beberapa”.

H.    Penelitian Tindakan Kelas
1.    Pengertian
Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) adalah suatu bentuk penelitian reflektif yang dilakukan oleh guru yang hasilnya dimanfaatkan sebagai alat untuk pengembangan keahlian mengajar peningkatan profesionalisme guru, pengembangan sekolah, pengembangan kurikulum dan lain – lain ( Mc. Niff ; 1992 : 1 dalam Djuweni, 2005 : 2 ). Jenis penelitian ini merupakan penelitian praktis yang dilakukan dikelas dan bertujuan untuk menemukan strategi pembelajaran yang tepat untukmemperbaiki praktik pembelajaran yang ada.
2.    Karakteristik PTK
Penelitian tindakan kelas mempunyai ciri yang nampak jelas yaitu:
a.    Situasional artinya sesuai dengan diagnosa masalah dalam konteks tertentu yang diangkat dari praktik pembelajaran sehari-hari yang dirasakan oleh guru dan siswa.
b.    Bersifat self evaluatif yaitu dalam memodifikasi kegiatan praktis dilakukan sendiri secara kontinu dan dievaluasi hingga mencapai perbaikan yang nyata.
c.    Kolaboratif artinya dalam pelaksanaan tindakan kelas guru dapat bekerja sama secara partisipatif dengan guru lain, kepala sekolah, peneliti ahli ataupun siswa sehingga perspektif terhadap obyek dan hasil penelitian objektif.
d.    Penelitian tindakan kelas memanfaatkan data hasil pengamatan dan perilaku empiris yang bukan sekedar kesan impresionistik subjektif.
3.    Manfaat PTK
Ditinjau dari segi akademik penelitian tindakan kelas bermanfaat untuk membantu guru menghasilkan pengetahuan yang valid dan relevan dengan kondisi kelas mereka untuk memperbaiki proses pembelajaran jangka pendek ( Raka Joni, 1995 dalam Djuweni, 2005 : 4 )
a.    Pelaksanaan inovasi pembelajaran dari bawah ( bottom up)
b.    Pengembangan kurikulum ditingkat kelas dan sekolah
c.    Meningkatkan profesionalisme guru yaitu melalui pengkajian dan pengembangan secara sistematik dan berkelanjutan.
4.    Menurut model Kemis dan Mc. Taggart, pelaksanaan penelitian tindakan mencakup empat langkah :
a.    Merumuskan masalah dan merencanakan tindakan.
b.    Melaksanakan tindakan dan melaksanakan monitoring.
c.    Refleksi hasil pengamatan.
d.    Perubahan / revisi perencanaan untuk kegiatan selanjutnya.
Mc. Kernan menyebutkan tujuh langkah dalam PTK
a.    Analisis situasi atau mengenal medan
b.    Perumusan dan klasifikasi masalah
c.    Hipotesis tindakan
d.    Perencanaan tindakan dan monitoring
e.    Implementasi tindakan dan monitoring
f.    Evaluasi hasil tindakan
g.    Refleksi dan pengambilan keputusan untuk pengembangan selanjutnya.
5.    Identifikasi dan Merumuskan Masalah
Untuk membantu pengidentifikasian masalah, ada beberapa sumber yang dapat dijadikan acuan : 1) Bacaan terutama yang berisi laporan penelitian, 2) Seminar, diskusi dan pertemuan ilmiah, 3) Pernyataan ahli atau orang – orang yang memegang otoritas, 4) Pengamatan, 5) Pengalaman pribadi dan 6) Perasaan intuitif. ( Suryabrata, 1983).

I.    Hipotesis
Keberhasilan pembelajaran, dalam arti tercapainya tujuan–tujuan pembelajaran, sangat bergantung pada kemampuan guru dalam mengolah Pembelajaran. Pembelajaran yang baik dapat menciptakan situasi yang memungkinkan anak belajar sehingga merupakan awal keberhasilan pembelajaran. Didalam kurikulum 2004 yaitu KBK siswa dituntut untuk lebih kreatif, imajinatif, mandiri, bekerja sama dan solider.
Pengalaman dan kegiatan pembelajaran menunjukkan aktifitas belajar yang perlu dilakukan siswa dalam rangka mencapai penguasaan standart kompetensi. Pengalaman belajar yang diciptakan harus mampu mengembangkan ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik, Oleh karena itu keahlian guru dalam memilih model pembelajaran yang sesuai dengan standart kompetensi yang akan dicapai sangat diperlukan. Model pembelajaran yang mungkin digunakan guru diantaranya adalah pembelajaran dengan metode Problem-Based Learning. Dimana didalam pembelajaran berbasis masalah siswa dituntut untuk lebih kreatif, bertanggungjawab terhadap diri, kelompok dan lingkungannya.
Berdasarkan  kerangka teoritik diatas, maka hipotesis tindakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.    Dengan metode Problem-Based Learning dapat meningkatkan kemampuan             siswa dalam mengerjakan soal – soal latihan pada pokok bahasan Logika Matematika di kelas X-1 SMA Negeri 3 Blitar Tahun Ajaran 2006 - 2007?
2.    Dengan metode Problem-Based Learning dapat meningkatkan prestasi  belajar siswa kelas  pada pokok bahasan Logika Matematika di kelas X-1 SMA Negeri 3 Tahun Ajaran 2006 - 2007?
3.    Dampak metode Problem-Based Learning sangat baik dalam meningkatkan prestasi belajar  siswa pada pokok bahasan Logika Matematika  siswa kelas X-1 SMA Negeri 3 Blitar Tahun Ajaran 2006 - 2007?

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >






                                           VISITE >>                                             LOGIN >>                                                JOIN >>
© 2010 Official Website SMA Negeri 3 Blitar